kelebihan dan kelemahan dari browser terkemuka dengan link

lagu bersamamu -vierra liriknya

Vierra – Bersamamu

//

Memandang wajahmu cerah
membuatku tersenyum senang
indah dunia
*courtesy of LirikLaguIndonesia.net
Tentu saja kita pernah
mengalami perbedaan
kita lalui

tapi aku merasa jatuh terlalu dalam
cintamu…
ku tak akan berubah
ku tak ingi kau pergi
slamanya…u…o…ho…

Reff: ku kan setia menjagamu
bersama dirimu,dirimu o…o..
sampai nanti akan slalu
bersama dirimu

saat bersamamu kasih
ku merasa bahagia
dalam pelukmu

ku tak akan berubah
ku tak ingin kau pergi
slamanya…u…o…ho…

back to Reff

bridge: seperti yang kau katakan
kau akan slalu ada
(kau akan slalu ada…)
hooo….
menjaga, memeluk dirimu
dengan cinta oo…
dengan cinta

ada yang tahu hubungan negara dengan soal HAM?

Bagaimana hubungan antara negara dengan masyarakat soal HAM? Kenapa negara yang wajib memenuhi hak-hak kita?
Jawab

Relasi (hubungan) negara dan masyarakat sesungguhnya memberi gambaran adanya penyerahan sebagian hak masyarakat kepada negara, yang diwujudkan dengan bentuk kepatuhan masyarakat untuk menjalankan serangkaian kewajiban yang dibebankan negara kepadanya. Kewajiban disini maksudnya kewajiban seorang warga negara untuk penyelenggaraan negara misalnya dengan membayar pajak. Dana yang terkumpul dari pajak akan digunakan untuk membangun sarana pendidikan, kesehatan, transportasi, dan membayar upah/gaji petugas negara yang melayani masyarakat di berbagai bidang kehidupan seperti bidang keamanan dan pertahanan yang dialokasikan untuk institusi kepolisian dan TNI.

Sementara negara memiliki kewajiban untuk memenuhi hak-hak warga negara, sebagai kompensasi dari kepatuhan dan penundukan diri tersebut. Maka wajar jika masyarakat menuntut negara jika hak-hak azasi masyarakat tidak dipenuhi negara.

Hubungan ini kemudian dilegitimasi atau disahkan dan juga dilegalkan dengan menggunakan wadah konstitusi semacam undang-undang sebagai media kontrak sosial dan politik yang mengikat negara dan rakyat. Indonesia memiliki beberapa konstitusi yang menjamin terpenuhinya hak-hak masyarakat. Contoh kecilnya UU HAM No.39 Tahun 1999, UU No.09 Tahun 1998 Tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum, atau yang lebih tinggi UUD 1945 yang memuat jaminan terhadap HAM didalam keseluruhan naskahnya.

Karenanya konstitusi menempati posisi sebagai norma tertinggi (higest norm) dari suatu negara,  yang membebani negara dengan kewajiban untuk menjalankan segenap  kehendak rakyat dan memenuhi hak-haknya.

Kewajiban negara (state obligation) terhadap upaya pemenuhan hak asasi manusia diwujdukan setidaknya melalui beberapa isntrumen yakni, pertama negara beserta seluruh komponen dan organ-organ yang dimilikinya baik eksekutif (Presiden), legislatif (DPR/MPR), dan yudikatif (MK, MA) memiliki tanggung jawab untuk menghormati, menegakkan, dan memajukan pemenuhan hak asasi manusia. Negara tidak diperkenankan mencampuri atau menghalang-halangi segala upaya yang dilakukan masyarakat dalam rangka pemenuhan hak asasinya. Campur tangan (intervensi) hanya diperbolehkan untuk mendorong masyarakat agar mampu memenuhi dan menjamin kelangsungan pemenuhan hak azasi.

Kedua, Negara berkewajiban untuk mengeluarkan segala peraturan perundangan dan instrumen  hukum lainnya yang menjamin terpenuhinya hak asasi manusia bagi seluruh warga Negara, tidak hanya menguntungkan pihak-pihak atau kelompok tertentu. Ketiga, Negara harus berperan aktif dalam mengupayakan pemajuan, pemenuhan, dan penegakan hak asasi manusia bagi setiap warga Negara dan tidak pula menguranginya. Yang juga penting untuk diperhatikan, bahwa setiap warga Negara tanpa melihat ras, agama, jenis kelamin, status social, ataupun orientasi seksualnya memiliki akses dan kesempatan yang sama untuk mencukupi segala macam kebutuhan azasinya.

tugas kerusuhan pada tanggal 1998

Kerusuhan Mei 1998

Kemarahan masyarakat terhadap kebrutalan aparat keamanan dalam peristiwa Trisakti dialihkan kepada orang Indonesia sendiri yang keturunan, terutama keturunan Cina. Betapa amuk massa itu sangat menyeramkan dan terjadi sepanjang siang dan malam hari mulai pada malam hari tanggal 12 Mei dan semakin parah pada tanggal 13 Mei siang hari setelah disampaikan kepada masyarakat secara resmi melalui berita mengenai gugurnya mahasiswa tertembak aparat.

Sampai tanggal 15 Mei 1998 di Jakarta dan banyak kota besar lainnya di Indonesia terjadi kerusuhan besar tak terkendali mengakibatkan ribuan gedung, toko maupun rumah di kota-kota Indonesia hancur lebur dirusak dan dibakar massa. Sebagian mahasiswa mencoba menenangkan masyarakat namun tidak dapat mengendalikan banyaknya massa yang marah.

Setelah kerusuhan, yang merupakan terbesar sepanjang sejarah bangsa Indonesia pada abad ke 20, yang tinggal hanyalah duka, penderitaan, dan penyesalan. Bangsa ini telah menjadi bodoh dengan seketika karena kerugian material sudah tak terhitung lagi padahal bangsa ini sedang mengalami kesulitan ekonomi. Belum lagi kerugian jiwa di mana korban yang meninggal saat kerusuhan mencapai ribuan jiwa. Mereka meninggal karena terjebak dalam kebakaran di gedung-gedung dan juga rumah yang dibakar oleh massa. Ada pula yang psikologisnya menjadi terganggu karena peristiwa pembakaran, penganiayaan, pemerkosaan terhadap etnis Cina maupun yang terpaksa kehilangan anggota keluarganya saat kerusuhan terjadi. Sangat mahal biaya yang ditanggung oleh bangsa ini.

Akhirnya dibentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk menyelidiki masalah ini karena saat itu Indonesia benar-benar menjadi sasaran kemarahan dunia karena peristiwa memalukan dengan adanya kejadian pemerkosaan dan tindakan rasialisme yang mengikuti peristiwa gugurnya Pahlawan Reformasi. Demonstrasi terjadi di kota-kota besar dunia mengecam kebrutalan para perusuh. Akhirnya untuk meredam kemarahan dunia luar negri TGPF mengeluarkan pernyataan resmi yang menyatakan bahwa adalah benar terjadi peristiwa pemerkosaan terhadap wanita etnis minoritas yang mencapai hampir seratus orang dan juga penganiayaan maupun pembunuhan oleh sekelompok orang yang diduga telah dilatih dan digerakkan secara serentak oleh suatu kelompok terselubung. Sampai saat ini tidak ada tindak lanjut untuk membuktikan kelompok mana yang menggerakkan kerusuhan itu walau diindikasikan keterlibatan personel dengan postur mirip militer dalam peristiwa itu.

berdasarkan : http://www.semanggipeduli.com/Sejarah/frame/kerusuhan.html

Pendudukan gedung DPR/MPR oleh mahasiswa

Dalam keadaan yang mulai terkendali setelah mencekam selama beberapa hari sejak tertembaknya mahasiswa Trisakti dan terjadinya kerusuhan besar di Indonesia, tanggal 18 Mei 1998 hari Senin siang, ribuan mahasiswa berkumpul di depan gedung DPR/MPR dan dihadang oleh tentara yang bersenjata lengkap, bukan lagi aparat kepolisian. Tuntutan mereka yang utama adalah pengusutan penembakan mahasiswa Trisakti, penolakan terhadap penunjukan Soeharto sebagai Presiden kembali, pembubaran DPR/MPR 1998, pembentukan pemerintahan baru, dan pemulihan ekonomi secepatnya.

Kedatangan ribuan mahasiwa ke gedung DPR/MPR saat itu begitu menegangkan dan nyaris terjadi insiden. Suatu saat tentara yang berada di depan gedung atas tangga sempat mengokang senjata mereka sehingga membuat panik para wartawan yang segera menyingkir dari arena demonstrasi. Mahasiswa ternyata tidak panik dan tidak terpancing untuk melarikan diri sehingga tentara tidak dapat memukul mundur mahasiswa dari gedung DPR/MPR. Akhirnya mahasiswa melakukan pembicaraan dengan pihak keamanan selanjutnya membubarkan diri pada sore hari dan pulang dengan menumpang bus umum.

Keesokan harinya mahasiswa yang mendatangi gedung DPR/MPR semakin banyak dan lebih dari itu mereka berhasil menginap dan menduduki gedung itu selama beberapa hari. Keberhasilan meduduki gedung DPR/MPR mengundang semakin banyaknya mahasiswa dari luar Jakarta untuk datang dan turut menginap di gedung tersebut. Mereka mau menunjukkan kalau reformasi itu bukan hanya milik Jakarta tapi milik semua orang Indonesia.

Soeharto akhirnya menyerah pada tuntutan rakyat yang menghendaki dia tidak menjadi Presiden lagi, namun tampaknya tak semudah itu reformasi dimenangkan oleh rakyat Indonesia karena ia meninggalkan kursi kepresidenan dengan menyerahkan secara sepihak tampuk kedaulatan rakyat begitu saja kepada Habiebie. Ini mengundang perdebatan hukum dan penolakan dari masyarakat. Bahkan dengan tegas sebagian besar mahasiswa menyatakan bahwa Habiebie bukan Presiden Indonesia. Mereka tetap bertahan di gedung DPR/MPR sampai akhirnya diserbu oleh tentara dan semua mahasiswa digusur dan diungsikan ke kampus-kampus terdekat. Paling banyak yang menampung mahasiswa pada saat evakuasi tersebut adalah kampus Atma Jaya Jakarta yang terletak di Semanggi.

berdasarkan: http://www.semanggipeduli.com/Sejarah/frame/pendudukan.html

lagu verih vierra liriknya

Vierra – Perih

//

Dirimu…
tak pernah menyadari
semua…
yang telah kau miliki
kau buang aku, tinggalkan diriku
kau… hancurkan aku seakan ku tak pernah ada
*courtesy of LirikLaguIndonesia.net
Aku kan bertahan
meski takkan mungkin
menerjang kisahnya
walau perih… walau perih…

salahkah…
aku terlalu cinta
berharap..
semua kan kembali
kau buang aku,tinggalkan diriku
kau.. hancurkan aku
seakan ku tak pernah ada

Aku kan bertahan
meski takkan mungkin
menerjang kisahnya
walau perih… walau perih…

Aku kan bertahan
meski takkan mungkin
menerjang kisahnya
walau perih…

Aku kan bertahan
meski takkan mungkin
menerjang kisahnya
walau perih… walau perih…
walau perih….walau perih…

berdasarkan semanggi peduli

Tragedi Semanggi

Pada bulan November 1998 pemerintahan transisi Indonesia mengadakan Sidang Istimewa untuk menentukan Pemilu berikutnya dan membahas agenda-agenda pemerintahan yang akan dilakukan. Mahasiswa bergolak kembali karena mereka tidak mengakui pemerintahan ini dan mereka mendesak pula untuk menyingkirkan militer dari politik serta pembersihan pemerintahan dari orang-orang Orde Baru.

Masyarakat dan mahasiswa menolak Sidang Istimewa 1998 dan juga menentang dwifungsi ABRI/TNI karena dwifungsi inilah salah satu penyebab bangsa ini tak pernah bisa maju sebagaimana mestinya. Benar memang ada kemajuan, tapi bisa lebih maju dari yang sudah berlalu, jadi, boleh dikatakan kita diperlambat maju. Sepanjang diadakannya Sidang Istimewa itu masyarakat bergabung dengan mahasiswa setiap hari melakukan demonstrasi ke jalan-jalan di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Peristiwa ini mendapat perhatian sangat besar dari dunia internasional terlebih lagi nasional. Hampir seluruh sekolah dan universitas di Jakarta, tempat diadakannya Sidang Istimewa tersebut, diliburkan untuk mecegah mahasiswa berkumpul. Apapun yang dilakukan oleh mahasiswa mendapat perhatian ekstra ketat dari pimpinan universitas masing-masing karena mereka di bawah tekanan aparat yang tidak menghendaki aksi mahasiswa. Sejarah membuktikan bahwa perjuangan mahasiswa tak bisa dibendung, mereka sangat berani dan jika perlu mereka rela mengorbankan nyawa mereka demi Indonesia baru.

Pada tanggal 12 November 1998 ratusan ribu mahasiswa dan masyrakat bergerak menuju ke gedung DPR/MPR dari segala arah, Semanggi-Slipi-Kuningan, tetapi tidak ada yang berhasil menembus ke sana karena dikawal dengan sangat ketat oleh tentara, Brimob dan juga Pamswakarsa (pengamanan sipil yang bersenjata bambu runcing untuk diadu dengan mahasiswa). Pada malam harinya terjadi bentrok pertama kali di daerah Slipi dan puluhan mahasiswa masuk rumah sakit. Satu orang pelajar, yaitu Lukman Firdaus, terluka berat dan masuk rumah sakit. Beberapa hari kemudian ia meninggal dunia.

Esok harinya Jum’at tanggal 13 November 1998 ternyata banyak mahasiswa dan masyarakat sudah bergabung dan mencapai daerah Semanggi dan sekitarnya, bergabung dengan mahasiswa yang sudah ada di depan kampus Atma Jaya Jakarta. Jalan Sudirman sudah dihadang oleh aparat sejak malam hari dan pagi hingga siang harinya jumlah aparat semakin banyak guna menghadang laju mahasiswa dan masyarakat. Kali ini mahasiswa bersama masyarakat dikepung dari dua arah sepanjang Jalan Jenderal Sudirman dengan menggunakan kendaraan lapis baja.

Jumlah masyarakat dan mahasiswa yang bergabung diperkirakan puluhan ribu orang dan sekitar jam 3 sore kendaraan lapis baja bergerak untuk membubarkan massa membuat masyarakat melarikan diri, sementara mahasiswa mencoba bertahan namun saat itu juga terjadilah penembakan membabibuta oleh aparat dan saat di jalan itu juga sudah ada mahasiswa yang tertembak dan meninggal seketika di jalan. Ia adalah Teddy Wardhani Kusuma, merupakan korban meninggal pertama di hari itu.

Mahasiswa terpaksa lari ke kampus Atma Jaya untuk berlindung dan merawat kawan-kawan dan masyarakat yang terluka. Korban kedua penembakan oleh aparat adalah Wawan, yang nama lengkapnya adalah Bernadus R Norma Irawan, mahasiswa Fakultas Ekonomi Atma Jaya, Jakarta, tertembak di dadanya dari arah depan saat ingin menolong rekannya yang terluka di pelataran parkir kampus Atma Jaya, Jakarta. Mulai dari jam 3 sore itu sampai pagi hari sekitar jam 2 pagi terus terjadi penembakan terhadap mahasiswa di kawasan Semanggi dan saat itu juga lah semakin banyak korban berjatuhan baik yang meninggal tertembak maupun terluka. Gelombang mahasiswa dan masyarakat yang ingin bergabung terus berdatangan dan disambut dengan peluru dan gas airmata. Sangat dahsyatnya peristiwa itu hingga jumlah korban yang meninggal mencapai 15 orang, 7 mahasiswa dan 8 masyarakat. Indonesia kembali membara tapi kali ini tidak menimbulkan kerusuhan.

Anggota-anggota dewan yang bersidang istimewa dan tokoh-tokoh politik saat itu tidak peduli dan tidak mengangap penting suara dan pengorbanan masyarakat ataupun mahasiswa, jika tidak mau dikatakan meninggalkan masyarakat dan mahasiswa berjuang sendirian saat itu. Peristiwa itu dianggap sebagai hal lumrah dan biasa untuk biaya demokrasi. “Itulah yang harus dibayar mahasiswa kalau berani melawan tentara”.

Betapa menyakitkan perlakuan mereka kepada masyarakat dan mahasiswa korban peristiwa ini. Kami tidak akan melupakannya, bukan karena kami tak bisa memaafkan, tapi karena kami akhirnya sadar bahwa kami memiliki tujuan yang berbeda dengan mereka. Kami bertujuan memajukan Indonesia sedangkan mereka bertujuan memajukan diri sendiri dan keluarga masing-masing. Sangat jelas!

berdasarkan

http://www.semanggipeduli.com/Sejarah/frame/semanggi.html

Tragedi Semanggi II

Bangsa Indonesia harus mengucurkan air matanya kembali. Untuk yang kesekian kalinya tentara melakukan tindak kekerasan kepada mahasiswa dalam menghentikan penolakan sikap mahasiswa terhadap pemerintahan. Lokasi penembakan mahasiswa pun di tempat yang sangat strategis yang dapat dipantau oleh banyak orang awam yaitu di bawah jembatan Semanggi, depan kampus Universitas Atma Jaya Jakarta, dekat pusat sentra bisnis nasional maupun internasional.

Kala itu adanya pendesakan oleh pemerintahan transisi untuk mengeluarkan Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Bahaya (UU PKB) yang materinya menurut banyak kalangan dan mahasiswa sangat memberikan keleluasaan kepada militer untuk melakukan keadaan negara sesuai kepentingan militer. Oleh karena itulah mahasiswa bergerak dalam jumlah besar untuk bersama-sama menentang diberlakukannya UU PKB karena ini menentang tuntutan mereka untuk menghilangkan dwifungsi ABRI/TNI. Karena hanya dengan berdemonstrasi, mereka yang mau mensahkan Undang-Undang tersebut baru berpikir, sebab tampaknya mereka sudah tak punya hati nurani lagi dan entah bagaimana membuat mereka peduli dengan bangsanya daripada peduli terhadap perut buncit mereka itu yang duduk di kursi parlemen menggunakan logo Pancasila dengan bangganya di jas mereka.

Malang nasib mahasiswa yang selalu harus berkorban, kali ini mahasiswa Universitas Indonesia harus kehilangan seorang pejuang demokrasi mereka, Yun Hap. Sungguh pedih bagi mereka yang terus mengikuti perjuangan mahasiswa karena ketika setiap kali mereka berjuang mereka harus mengorbankan jiwa mereka demi tegaknya demokrasi di Indonesia.

berdasarkan:

http://www.semanggipeduli.com/Sejarah/frame/semanggi2.html

tragedi semanggi 1 bab2

Deskripsi

Jumlah masyarakat dan mahasiswa yang bergabung diperkirakan puluhan ribu orang dan sekitar jam 3 sore kendaraan lapis baja bergerak untuk membubarkan massa membuat masyarakat melarikan diri, sementara mahasiswa mencoba bertahan namun saat itu juga terjadilah penembakan membabibuta oleh aparat ketika ribuan mahasiswa sedang duduk di jalan. Saat itu juga beberapa mahasiswa tertembak dan meninggal seketika di jalan. Salah satunya adalah Teddy Wardhani Kusuma, mahasiswa Institut Teknologi Indonesia yang merupakan korban meninggal pertama di hari itu.

Mahasiswa terpaksa lari ke kampus Universitas Atma Jaya untuk berlindung dan merawat kawan-kawan seklaligus masyarakat yang terluka. Korban kedua penembakan oleh aparat adalah Wawan, yang nama lengkapnya adalah Bernardus Realino Norma Irmawan, mahasiswa Fakultas Ekonomi Atma Jaya, Jakarta, tertembak di dadanya dari arah depan saat ingin menolong rekannya yang terluka di pelataran parkir kampus Universitas Atma Jaya, Jakarta[2]. Mulai dari jam 3 sore itu sampai pagi hari sekitar jam 2 pagi terus terjadi penembakan terhadap mahasiswa di kawasan Semanggi dan penembakan ke dalam kampus Atma Jaya. Semakin banyak korban berjatuhan baik yang meninggal tertembak maupun terluka. Gelombang mahasiswa dan masyarakat yang ingin bergabung terus berdatangan dan disambut dengan peluru dan gas airmata. Sangat dahsyatnya peristiwa itu sehingga jumlah korban yang meninggal mencapai 17 orang. Korban lain yang meninggal dunia adalah: Sigit Prasetyo (YAI), Heru Sudibyo (Universitas Terbuka), Engkus Kusnadi (Universitas Jakarta), Muzammil Joko (Universitas Indonesia), Uga Usmana, Abdullah/Donit, Agus Setiana, Budiono, Doni Effendi, Rinanto, Sidik, Kristian Nikijulong, Sidik, Hadi.

Jumlah korban yang didata oleh Tim Relawan untuk Kemanusiaan berjumlah 17 orang korban, yang terdiri dari 6 orang mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi di Jakarta, 2 orang pelajar SMA, 2 orang anggota aparat keamanan dari POLRI, seorang anggota Satpam Hero Swalayan, 4 orang anggota Pam Swakarsa dan 3 orang warga masyarakat. Sementara 456 korban mengalami luka-luka, sebagian besar akibat tembakan senjata api dan pukulan benda keras, tajam/tumpul. Mereka ini terdiri dari mahasiswa, pelajar, wartawan, aparat keamanan dan anggota masyarakat lainnya dari berbagai latar belakang dan usia, termasuk Ayu Ratna Sari, seorang anak kecil berusia 6 tahun, terkena peluru nyasar di kepala

Tragedi Semanggi II

Pada 24 September 1999, untuk yang kesekian kalinya tentara melakukan tindak kekerasan kepada aksi-aksi mahasiswa.

Kala itu adanya pendesakan oleh pemerintahan transisi untuk mengeluarkan Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Bahaya (UU PKB) yang materinya menurut banyak kalangan sangat memberikan keleluasaan kepada militer untuk melakukan keadaan negara sesuai kepentingan militer. Oleh karena itulah mahasiswa bergerak dalam jumlah besar untuk bersama-sama menentang diberlakukannya UU PKB.

Mahasiswa dari Universitas Indonesia, Yun Hap meninggal dengan luka tembak di depan Universitas Atma Jaya.

Daerah lain

Selain di Jakarta, pada aksi penolakan UU PKB ini korban juga berjatuhan di Lampung dan Palembang. Pada Tragedi Lampung 28 September 1999, 2 orang mahasiswa Universitas Lampung, Muhammad Yusuf Rizal dan Saidatul Fitriah, tewas tertembak di depan Koramil Kedaton. Di Palembang, 5 Oktober 1999, Meyer Ardiansyah (Universitas IBA Palembang) tewas karena tertusuk di depan Markas Kodam II/Sriwijaya.

tragedi semanggi 1

Tragedi Semanggi menunjuk kepada dua kejadian protes masyarakat terhadap pelaksanaan dan agenda Sidang Istimewa yang mengakibatkan tewasnya warga sipil. Kejadian pertama dikenal dengan Tragedi Semanggi I terjadi pada 1113 November 1998, masa pemerintah transisi Indonesia, yang menyebabkan tewasnya 17 warga sipil. Kejadian kedua dikenal dengan Tragedi Semanggi II terjadi pada 24 September 1999 yang menyebabkan tewasnya seorang mahasiswa dan sebelas orang lainnya di seluruh jakarta serta menyebabkan 217 korban luka – luka.

Awal

Pada bulan November 1998 pemerintahan transisi Indonesia mengadakan Sidang Istimewa untuk menentukan Pemilu berikutnya dan membahas agenda-agenda pemerintahan yang akan dilakukan. Mahasiswa bergolak kembali karena mereka tidak mengakui pemerintahan B. J. Habibie dan tidak percaya dengan para anggota DPR/MPR Orde Baru. Mereka juga mendesak untuk menyingkirkan militer dari politik serta pembersihan pemerintahan dari orang-orang Orde Baru.

Masyarakat dan mahasiswa menolak Sidang Istimewa 1998 dan juga menentang dwifungsi ABRI/TNI. Sepanjang diadakannya Sidang Istimewa itu masyarakat bergabung dengan mahasiswa setiap hari melakukan demonstrasi ke jalan-jalan di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Peristiwa ini mendapat perhatian sangat besar dari seluruh Indonesia dan dunia internasional. Hampir seluruh sekolah dan universitas di Jakarta, tempat diadakannya Sidang Istimewa tersebut, diliburkan untuk mencegah mahasiswa berkumpul. Apapun yang dilakukan oleh mahasiswa mendapat perhatian ekstra ketat dari pimpinan universitas masing-masing karena mereka di bawah tekanan aparat yang tidak menghendaki aksi mahasiswa.

arti management

Tugas ke 3 Arti Management (Tambahan)

Management juga bisa memanfaatkan sesuatu untuk mencapai tujuan tersebut. Dikarenakan manangement membuthkan orang lain untuk membuat jadi berfungsi dan teratur dengan kata lain manangement bisa menjadi bersama kalo ingin lebih mudah mencapai suatu tujuan tersebut, management : melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan sesuatu harus memanfaatkan ke ahlian seseorang untuk mencapai tujuan tersebut. Management adalah kegiatan yang tidak luput dari sifat manusia artinya manusia memiliki tugas tersebut harus bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat karenakan management adalah hasil dari kegiatan tersebut dan struktur management harus lengkap memiliki misi,visi dan tujuan yang jelas bukan untuk pribadi. Suatu dasar management bisa dikatan harus bisa mengembakan diri sendiri karena manangement bisa dijadikan tembok besar karena sering ada pepecahan didalamnya karena itulah management harus bisa menjadi berhati hati atau jadi bahaya. Prosesnya membutuhkan waktu yang lama tetapi bisa masuk di akal dan butuh kesabar untuk mencapainya karena tuga tersbut tidak mudah untuk melakukan sendiri.

Tugas yang harus bisa dilaksanakan adalah tugas yang sudah tahu patokannya dan harus bisa dikerjakan dan sudah mengerti kesalahan di tugas tugas tersebut, contoh tugasnya harus bisa di struktur dengan baik dan bisa di harapkan menjadi yang paling baik karena sangat membutuhkan untuk negara belum begitu berkembang karena negara ini kurang di pertegas masalah masalah management di indonesia dan kurang di perhatikan, tugas yang harus di berikan memang tidak harus banyak tetapi bisa dan tidak ada kesalahan dalam hal tersebut karena kalo salah sedikit saja tugas tersebut akan gagal dan tidak bisa dikatakan tugas yang berhasil dan sempurna.

Seseorang harus mengerti dalam situasi ini dan harus ada memimpin dalam management dan tentu berpengalaman untuk menjadi ketua harus bisa didasarkan orang yang mengerti dan bukan hanya bisa memilih saja atau menyuruh tugas tersebut. pemimpin yang baik harus mendengarkan kata kata bawahanya dan harus bisa tegas,adil dan bijaksana. Tugas tersebut pasti bisa diselesaikan karena memiliki pemimpin yang sudah bisa diandalkan untuk tugas tersebut pemimpin tidak harus menjadi egois dan memaikan nama jabatan tetapi tanggung ajwab yang besar terhadap pemipin tersebut harus bisa di lakasanakan karena dengan begitu kita bisa liat hasilnya dari penugasana suatu pemimpin yang mimpin management tersebut.

Karena itu management bukan hal yang mudah bukan? Bukan hal yang bisa disepelekan dikalangan atas management hal yang susah tetapi mudah dipahami. Management seseorang berhasil bila suatu tujuan dicapai lalu ada tujuan lagi tercapai lagi baru bisa dikatakan berhasil bila dilakukan bersama sama tanpa keluhan ,egois dan keretakan dalam anggota jauh rasa iri,dengki dan permusuhan yang bisa buat retaknya suatu management. Unsurnya bisa mencapai secara mufakat juga bukan dan digunakan di masarakat dalam lingkunagn mendatang juga bukan?.

secara orientasi dalam pengorganisasian

3. Secara orientasi yang mengakibatkan bingung dan kenapa bisa terjadi?simaklah contoh ini dalam nilai dan visi mereka membuat dah sudah jadi dan lengkaplah nilai visi dalam organisasi tersebut tapi dalam misi mereka mereka tidak mempunyai tidak ada planning tujuan kedepan dalam artinya mereka gak ada tujuan adanya organisasi ini mau diapaain?, membuat aturan memang ini akan menjadi penting dalam organisasi tapi bila 1 syarat organisasi itu kurang maka hasilnya akan buruk tanpa aturan buat besok atau masa depan mereka berkerja dengan aturan apa? Profesionalisme yang berarti sifat tenaga kerja yang professional dalam pekerjaan suatu organisasi, apa akan tertutup dalam organisasi dengan tidak ada misi ditutup oleh professionalisme? Jawabnya tidak profesional sifat persyaratan sedangkan misi akan membatu dalam mengerjakan suatu tujuan di organisasi secara orientasi,insentif mencapai targetkan bila dari misi sudah tidak ada? Tidakan mencapai target karena organisasi ini tidak tahu kedepannya mau kemana,tujuan adanya organisasi ini untuk apa, sumber daya adalah sumber daya dari alamm atau manusia artinya anggota dan barang terus untuk pimpinan mau di bawa kemana anggota tersebut dengan tidak adanya misi? Bagaimana dengan barang? Apakah akan menummpuk?, rencana kerja dengan adanya rencana kerja suatu syarat terkahir untuk membuat suatu organisasi dalam orietasi maka tidak akan bisa berkembang bila misi saja tidak ada dalam organisasi dan berakitbatkan suatu organisasi menjadi Bingung.

4 Dan yang ini sering terjadi di Indonesia yang menghasilkan Konflik kepentingan, dalam nilai dan visi memang mereka membuat karena agar ada patokan dalam melaksanakan tugas dan bisa di hendel dalam kerja dan misi mereka membuat dengan tujuan yang jelas dan kedepan mau apa, dalam ini bisa kita simak memang visi dan misi sangat penting dalam organisasi agar tidak menyimpang sedangkan misi harus di buat karena bisa untuk penargetan suatu organisasi dalam sifat pemasaran dan ekonomi management sangat dibutuhkan tetapi bila aturan organisasi tidak ada akan bagaimana organisasi tersebut bisa jalan dan bekerja?karenadengan adanya aturan dalam organisasi maka seorang pimpinan suatu organisasi bisa mengawasi jalan kerjanya suatu anggota organisasi dan tentu peraturan ini bisa jadi suatu sifat yang memaksa dalam organisasi karena memiliki aturan aturan yang harus di patuhi dalam organisasi,seara prosesnya bila tanpa aturan maka apakah akan ada profesionalisme?, pasti akan kurangnya sifat profesonalise karena tidak adanya aturan yang berlaku dalam organisasi secara logik bila suatu perusahaan tidak ada aturan kerja maka kita bisa masuk kerja terserah kita dan semaunya kita dengan gaji yang tidak berubah,bagaimana dengan insentifnya? Tentu disini akan membuat kurang bisa melakukan insentif karena tidak ada aturan yang berlaku dalam organisasi tersebut walau ada sumber daya yang memadai tapi anggotanya tidak bisa memiliki aturan organisasi tidak akan membantu dala pengerjaan organisasi tersebut,rencana kerja tanpa adanya aturan akan pengaruh rencana kerja tidak akan bisa membantu dalam keorganisasian dengan ada pendambing aturan dan artinya bila kedepannya aka nada konflik kepentingan dari anggotanya saling menjatuhkan untuk kepentingan masing masing

« Older entries